Manfaat Pendidikan dalam Mitos Alegori Goa Platon:
(Memperingati Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2019)

Oleh
Nando Sengkang
            (Mahasiswa STF Driyarkara-Jakarta)

Tanpa wacana panjang-lebar, kita semua tentu sepakat bahwa pendidikan sangat berguna dalam revitalisasi kehidupan kita, dengan salah satu manfaatnya: mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan, bagi penulis, ibarat obat mustajab yang dapat menyembuhkan penyakit yang sanagat berbahaya bagi masyarakat modern, yakni “penyakit akal sehat”: kekeliruan, kesalahan (tanpa kritis), ketidaktahuan. Argumentasi tersebut berangkat dari kebiasaan meneropong realitas: melihat masalah-masalah sekitar, melihat lebih jauh. Salah satu temuannya ialah, menurut istilah penulis, adanya “penyakit akal sehat” yang menjadi penyakit yang paling berbahaya era modern. Penyakit tersebut merupakan macetnya cara berpikir yang sehat: benar dan sejati. Dengan macetnya cara berpikir yang sehat, hal itu akan menciptakan kekeliruan, kesalahan (tanpa kritis), ketidaktahuan yang menyebabkan kekacauan bangsa ini. Oleh karena itu, peran Pendidikan, seperti obat mustajab, sangat esensial dalam menyembuhkan penyakit tersebut.
Tulisan ini akan memberikan pemahaman bagi kita, yang mungkin masih minim, mengenai manfaat Pendidikan dalam mitos Alegori Goa. Mitos tersebut dipopulerkan oleh Platon, seorang filsuf klasik Yunani, yang tahun 428/427 SM dan meninggal di kota yang sama pada tahu 348/347 (J. H. Rapar, 1991: 41). Dengan demikian, melalui tulisan ini, kiranya pembaca budiman mendapat sedikit pencerahan atau refleksi kembali mengenai manfaat Pendidikan yang membentuk kita menjadi manusia yang manusiawi. Semoga!

Alegori Goa Platon
            Alegori Goa dimulai dengan penggambaran situasi manusia menjadi tahanan di dalam goa. Pengalaman tertawan dan berada dalam goa adalah perumpamaan untuk kondisi manusia yang tidak terdidik. Platon bertutur tentang para tawanan yang tinggal di dalam sebuah goa, mereka terantai sedemikian rupa sehingga pandangan mata para tawanan hanya bisa terarah ke dinding goa. Di dasar goa, di belakang para tawanan yang terantai, ada semacam tembok kecil meninggi yang memisahkan para tawanan dari lalu-lalang budak-budak yang membawa benda-benda di balik tembok tersebut. Dan lebih tinggi lagi ada kobaran api yang menerangi kegelapan goa. Sepanjang hidupnya, para tawanan hanya melihat bayang-bayang yang terpantul di dinding goa.
Oleh karenanya, sangat wajar bahwa mereka menganggap bayang-bayang tersebut sebagai realitas yang sebenarnya. Satu-satunya kenyataan adalah bayang-bayang, dan itulah yang mereka anggap realitas yang sebenarnya. Suara para budak yang lalu lalang dianggap para tawanan sebagai suara dari bayang-bayang yang mereka saksikan (A. Setyo Wibowo, 2017: 113-114).
            Dari deskripsi yang diberikan, kita akan tahu bahwa goa itu memiliki pintu keluar, sehingga ketika seorang tawanan terbebaskan dia akan bisa keluar. Pintu itu cukup besar, namun jalan menuju pintu tersebut menanjak dan curam. Pintu terletak jauh di atas dan terbuka sepenuhnya ke cahaya dari luar. Sebagaimana Platon tidak menerangkan mengapa mereka menjadi tawanan, dia juga tidak menerangkan mengapa ada satu tawanan yang akhirnya terbebakan dari rantainya. Tawanan tersebut dikatakan bahwa ia terbebaskan secara sumbainoi (aksidental, terjadi begitu saja). Bila pembebasa tawanan terjadi begitu saja, maka pada kisah selanjutnya, upaya sang tawanan untuk naik keluar goa bukan kebetulan, juga sengaja (kemauan sendiri), melainkan sebuah “paksaan” (A. Setyo Wibowo, 2017: 113-114).
            Ada dua momen menarik untuk dicermati: pertama, proses paidea (Pendidikan) awalnya adalah sebuah kebetulan belaka, namun kebetulan yang disertai pengorbanan dari si tawanan. Saat seorang tawanan terbebaskan mulai menengok, melihat cahaya api dan benda-benda sumber pantulan, dia merasakan sakit di mata (baca: silau). Kedua, begitu momen awal terlampaui, ketika proses paidea berlanjut, ia akan naik lagi (karena dipaksa) meniti jalan curam menuju pintu keluar. Di sini, dimensi pengorbanan menjadi lebih nyata karena karena Platon mengambarkan sebagai “paksaan”. Sama halnya dengan, orang-orang yang dipaksa untuk bersekolah. Jika mengikuti keinginan sendiri, maka kemungkinan untuk tidak terjun dalam dunia Pendidikan sangat mungkin terjadi. Akhirnya, proses naik sang tawanan keluar goa berakhir pada penglihatan matahari, sebagai sumber segala sesuatu yang ada di luar goa dan simbol kebaikan, pengetahuan benar dan sejati (bdk. A. Setyo Wibowo, 2017: 115-116).
Dari Kegelapan Menuju ke Arah yang Terang
Alegori Goa Platon mengandung banyak tafsiran, tergantung dari sudut mana kita melihatnya. Menurut Platon, para tawanan yang duduk manis dalam kegelapan, sambil menikmati bayang-bayang sebagai wujud realitas, adalah kondisi manusia yang tidak terdidik. Mereka selamanya menganggap bayang-bayang itulah kenyataan sebenar-benarnya. Tanpa mengetahui lebih jauh bahwa realitas yang otentik ada di luar goa. Penulis menafsirkan kondisi ini sangat gamblang menunjukan orang-orang yang tidak mencicipi dunia Pendidikan, sehingga memiliki pengetahuan yang miskin (baca:sedikit), serta terlalu cepat menyimpulkan sesuatu sebagai yang benar, tanpa melihat lebih jauh wujud asli kebenaran itu. Sesuatu yang mereka lihat itulah realitas, tanpa menggali kebenaran yang lebih dalam.
Selanjutnya, ketika seorang tawanan keluar menuju pintu, ia tentu melewati jalan curam dan terjal. Hal ini menunjukan bahwa proses paidea (Pendidikan) tidak seperti jalan tol, tetapi penuh lika -liku atau tantangan yang bercabang. Usaha sang tawanan keluar dari kegelapan patut diacung jempol, penulis menafsirkan bahwa kita semua, khususnya mereka yang belum mencicipi dunia Pendidikan, harus berani keluar menuju arah yang terang: keluar dari zona nyaman, keluar dari pemahaman primitif, keluar dari sikap fanatik, keluar dari daerah kemalasan, keluar dari kebiasaan buruk, dst menuju cahaya terang: benar dan sejati. Jika, usaha menuju ke luar itu tersendat, yang disebabkan oleh ketidakmauan pribadi untuk sekolah dan merubah diri, Platon menganjurkan paksaan sebagai jalan keluar. Dengan paksaan dari orang tua, lingkungan, atau siapa saja terhadap mereka yang tidak ingin mencicipi dunia pendikan, alhasil mereka akan menyadari dan merubah cara pandang primitif itu.
Akhirnya, ketika seorang tawanan tiba di luar goa, dia akan menemukan begitu banyak realitas yang lebih dari pada hanya bayang-bayang di dasar goa. Dia juga akan melihat matahari, simbol kebaikan, pengetahuan benar dan sejati. Semua penglihatan itu merubah pemahaman sang tawanan sebelumnya yang sangat miskin dan menambah wawasannya. Dengan mencicipi Pendidikan, sekurang-kurangnya pernah bersekolah, kita akan seperti sang tawanan, yaitu melihat matahari sebagai gambaran kebaikan dan pengetahuan yang benar dan sejati. Oleh karena itu, pembaca yang budiman silahkan memilih: duduk manis seperti tawanan di dasar goa atau mengikuti sang tawanan yang berani keluar menuju goa? Selamat memilih! Jika bingung, baca kembali Alegori Goa Platon. Baca!







Mengobati Luka-Luka Ibu Pertiwi
(Memperingati Hari Kartini setelah Pesta Demokrasi)

Oleh
Nando Sengkang
(Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara-Jakarta)

Pesta demokrasi, 17 April 2019, sudah usai. Kini, Ibu Pertiwi sepertinya bisa tidur nyenyak setelah sekian lama dipusingkan oleh tingka laku anak-anaknya, yaitu para calon legislatif dan calon capres-cawapres, yang brutal demi merebut harta warisan: kursi kekuasaan. Sebelum tanggal 17 April, kelakuan anak-anaknya sungguh keterlaluan; mereka saling “berperang” demi mendapat harta warisan, ugal-ugalan mandi hujan hoax, main “petak umpet”, mengumpet kebenaran, dan bermain “sepak bola” dengan strategi “Coach Machiaveli”: bermain buruk dan brutal, mencedrai lawan, mencetak gol, dan meraih kemenangan; dengan menghalalkan segala cara, mereka mencapai satu tujuan, yaitu menang! Menang di atas para lawan yang cedra. Seperti itulah kelakuan anak-anak, yaitu para caleg, yang mungkin belum dewasa dan masih nakal. Harap maklumi!
Setelah tanggal 17 April, suasana kembali tenang. Ibu Pertiwi bisa tidur nyenyak. Namun, secara mengejutkan, Ibu Pertiwi terbangun oleh suatu berita yang melukai hatinya. Berita itu bukan ditiup angin hoax, melainkan berita yang faktual. Berita itu ialah kenakalan anak-anaknya kambuh; mereka tidak mau mengakui A, B, atau C sebagai pemenang, mereka tidak mau mengalah, keras kepala, tidak mau berlapang dada, bersikap rendah hati, serta meniru gaya barat: menerima kekalahan dan mengakui kemenangan lawan. Ironisnya, mereka “berperang” lagi, lebih sengit, ugal-ugalan mandi hujan hoax, dan menyangkal dan menyembunyikan kebenaran yang ada. Singkatnya, mereka tidak menerima kekalahan, melainkan menyangkalnya sebagai berita palsu, bahkan mendeklarasikan kemenangannya sendiri dan meneror masyarakat dengan opini palsu. Sikap aneh ini akibatnya sangat luas, masyarakat diterpa bencana alam baru, yakni kebingungan. Saya mengutip pernyataan seseorang di warung kopi, seperti komentator bola, “Apes…apes…tim A mengklaim sebagai pemenang, tim B juga; tim C mengklaim hasilnya seri, tim D mengakui terjadi kecurangan sehingga kalah; para supporter saling serang karena kecewa dengan hasil yang ada, dan wasit sudah duduk minum kopi karena pertandingan sudah usai, lantas mana yang benar? Siapa yang menang? Siapa yang kalah?” itulah suara masyarakat setelah pesta demokrasi!

Luka-Luka Ibu Pertiwi
Ibu Pertiwi dilanda kebingungan, anak-anaknya masih terus merebut harta warisan, melukai saudaranya, dan menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan. Kelakuan aneh ini menambah luka Ibu Pertiwi. Sebelum pesta demokrasi, Ibu Pertiwi mengalami pelbagai bencana: Tsunami yang menelan anak-anaknya, gempa bumi yang memporak-porandakan rumahnya, tanah longsong yang mengubur anaknya hidup-hidup, banjir bandang yang menyeret segala kepunyaannya, dan sebagainya. Selain itu, Ibu Pertiwi jatuh sakit akibat diserang virus KKN: korupsi, kolusi, dan nepotisme, serta virus hoax yang masih menggrogotinya. Setelah pesta demokrasi, kelakuan anak-anaknya yang semakin aneh memperparah luka-luka itu. Mereka berubah menjadi pencuri kebenaran, motivator hoax, dan Serigala yang menerkam dan membunuh yang lain. Dengan demikian, kelakuan yang bobrok itu menjadi pedang yang menghunus secara pelahan ke dalam hati Ibu Pertiwi.
`           Kenyataan lain terjadi. Selain anak-anak yang merebut kursi kekuasaan sebagai harta warisan, terdapat juga anak-anak yang baik, soleh, jujur, rajin berdoa, dan sebagainya. Mereka adalah kaum agamawan. Awalnya, mereka menjadi anak yang amat baik dan menjadi kegembiraan tersendiri bagi Ibu Pertiwi, namun akhir-akhir ini kelakuan mereka tidak jauh, bahkan mereka adalah penyebab kebisingan yang ada. Dalam Kitab Suci Nasrani, mereka disebut orang-orang Farisi atau kaum munafik; kemunafikannya bersembunyi di balik jubah-jubah yang sangat indah. Di balik jubah itu, ternyata mereka memakai jubah berwarna merah, yaitu uang. Uang telah membeli kebaikan, ketulusan, dan kesucian mereka; uang juga telah membeli Tuhan mereka, sehingga dengan uang, mereka mulai menghasut jemaatnya dengan kothbah-kotbah yang menggoda, menyebar hoax, melantunkan ayat-ayat suci, berdoa bersama, dan sebagainya. semua itu adalah demi mweujudkan seseorang yang menyuapi dan memberi jubah merah itu. Munafik!

Mengobati Luka-Luka Ibu Pertiwi
Ibu Pertiwi patut bersyukur karena memiliki anak yang lain, yaitu mereka yang tampilannya biasa-biasa saja, tak banyak bicara, dan sebagai kaum minoritas. Mereka nampaknya seperti “orang-orang biasa”, namun memiliki mimpi yang sungguh mulia, yakni merawat Bineka Tunggal Ika, serta menyembuhkan luka-luka ibunya. Mereka memiliki sikap yang tenang, tidak terseret arus kebingungan yang ada. Mereka juga selalu kritis sebelum menelan suatu informasi, melindungi diri dengan memakai payung persatuan dalam hujan hoax, dan terus menggelorakan “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh!” Seruan itu merupakan alarm bagi saudara-saudara yang lainnya, termasuk para pembaca, untuk bagun dari sikap apatis, egois, dan intoleran yang memecah belah persatuan bangsa. Dengan demikian, kita semua sebagai anak-anak Ibu Pertiwi kiranya mempunyai sikap yang sama, yaitu tenang, kritis, dan terus menggelorakan “Bineka Tunggal Ika” dan merawat ideologi Pancasila. Dengan sikap sederhana itu, tanpa kita sadari, kita sudah mengobati luka-luka ibu pertiwi.

Ibu Pertiwi dan Ibu Kartini
Selain para “Pencinta Persatuan” yang mempunyai satu tujuan: merawat spirit Bineka Tunggal Ika dan ideologi Pancasila, Ibu Pertiwi patut bersyukur karena memiliki seorang putri jelita yang mencintai persatuan, R.A. Kartini. Kartini merupakan putri keturunan bangsawan yang mempunyai kepedulian yang besar pada zamannya. Melalui buah pikirannya yang njlimet, dia menyuarakan persaman gender antara laki-laki dan perempuan; laki-laki dan perempuan adalah sama-sama manusia,  sehingga perempuan tidak hanya berada di ruang sempit, yaitu dapur-sumur-kasur, melainkan bisa berada di ruan publik. Melalui pikiran inovatif tersebut, realitas antara laki-laki dan perempuan berjalan di garis horizontal, walaupun beberapa tempat yang masih berjalan dalam garis vertikal. Dengan demikian, lirik lagu “Wahai ibu kita kartini puteri yang mulia, sungguh besar cita–citanya bagi Indonesia” merupakan penghargaan yang mulia bagi jasanya. Lantas, apakah pembaca bisa menjadi Katini zaman now? Semoga!



“Gombal Descartes” a la Reba[1] Manggarai

Ibu kota saat ini dilanda pelbagai musim: musim layang-layang, musim batu Akik, musim goyang dangdut, musim youtuber, musim macet, musim hujan: hujan hoax; musim badai KKN: korupsi, kolusi, Nepotisme; serta musim panas: panas persaingan menuju tangga jawara. Itulah wajah ibu kota, elok parasnya…menggoda perangainya…dan bobrok realitasnya. Duh!
Kita menuju ke Timur Indonesia. Realitasnya Sangat kontras! Ribuan mil dari ibu kota, ke arah Timur Indonesia, di kota seribu Gereja, Ruteng. Walaupun Ruteng hanyalah gadis desa dari Ibu Pertiwi, tetapi perangainya mulia dan kelakuan dan jati dirinya sungguh memesona. Tak ada hujan hoax, apalagi KKN, bahkan tensi panas dikalahkan oleh hawa dingin saat pagi dan sore hari yang sungguh menyejukan, menyegarkan rasio, dan menenangkan jiwa, harmoni. Walaupun Ruteng hanyalah gadis desa, namun dia mmepunyai kisah cinta yang menarik…berikut alunannya:
Saban sore…
Saat hawa dingin mulai menyelimuti kota, menari-nari di Menara Katedral, meleok-leok di atas atap Kapela Adoremuste, dan terus melejit di angkasa bersama alunan bayu. Terlihat dua sosok dalam satu jiwa: remaja micin, generasi digital, otak besi karat, duduk manis di kafe LG Corner, samping katedral, bersentuhan tangan, beradu pandang, dan mulai bermesra-mesraan, romantis!
Di pojok LG Corneer, jam dinding ikut mengintip, jarumnya mulai berputar cemburu, dan ditengah ada tulisan: Made In Anam and Expor from Cibal. Jam dinding rupanya malu-malu mengintip kemesraan dua makhluk manusia, malu-malu tapi mau, mau-mau tapi tidak mau, hingga terkena serangan jantung, Des! Jamnya berhenti berputar. Oh, usut punya usut, ternyata jamnya ternyata sudah rusak, dan memang rusak sejak 2 tahun yang lalu; tetapi pemilik kafe tak mampu membelinya karena masih dicekik belis yang selangit dari molas[2] Manggarai. Inilah wajah gadis desa, Ruteng: pacaran liar dan belis yang mencekik pria Manggarai. Duh!

Seperti tak peduli dengan nasib jam dinding yang menyedihkan, kedua sosok micin asik dengan kemesraan itu, mirip Fr Puta dengan mantannya tanpa jembatan pacarana: kenal langsung putus; mereka masih asik-asik berduaan sampai Ruteng menampilkan senyumnya bersama rembulan dan ribuan bintang-bintang, sungguh cantik! Ketika nuansa romantis bertemu malam suntuk, laki-laki yang dijuluki reba Manggarai menunjukan keahliannya yang pernah meraih penghargaan “Manggarai Award” kategori “Festival Kata-Kata”, yakni gombal. Tangganya mulai menjalar-ubi jalar- mengambil setangkai bunga Mawar yang dicuri dari taman Setia Bakti, di iringi musik dentuman kegugupan hati-jantung-empedu-usus buntu, dia melepaskan peluru gombalnya: “Enu? Corgito Ergo Sum one nai dite’[3], aku berpikir maka aku ada di hatimu.” Gadis Manggarai terdiam, bukan terharu, tetapi dia bingung. Senyumnya berubah mirip Kopi Pait[4] Manggarai; jam dinding di sudut LG Corner tersenyum. “Maksudnya apa nana[5]?” molas Manggarai melempar tanya, senyumnya berubah menjadi teh manis Solo. Reba Manggarai pantang menyerah, sikap yang sangat baik, alangkah baiknya dipraktekan dalam belajar. Reba Manggarai mengeluarkan peluru gombal kedua, katanya buatan Kim Jong Un, “Enu? Corgito Ergo Sum one nai dite’, aku berpikir maka aku ada di hatimu; maksud sederhananya  nana selalu memikirkan enu, setia setiap saat”. Enu terdiam sepi. Gombalan kedua tepat mengenai sasaran, tepat sekali! Molas Manggarai pun terkapar, tak berdaya, klepek-klepek Tempe Bacem, gombalan kedua menyentuh hatinya, merobohkan tembok egonya, dan mengalir rahmat kasih sayang dalam darahnya. Dia pun berbisik malu-malu, menggunakan peluru buatan Imanuel Kant, “Enu juga Sapare Aude mencintai nana; berani berpikir mencintai nana”.
Jam dinding pun tertawa.

Bersambung di kafe De’ Kraeng… 

Nando.s, Jakarta 17 April 2019, 09. 16 WIB






[1] Reba: pujian kepada seorang laik-laki yang beparas ganteng; ganteng
[2] Molas: pujian kepada seorang perempuan yang beparas cantik; cantik
[3] One nai dite’: di dalam hatimu. B. Inggris: In Your Heart!
[4] Kopi Pait: kopi hitam tanpa gula sehingga rasanya pahit.
[5] Nana: sapaan secara halus ke
pada seorang pria; saudara


        “Ketika Rasa Berbicara”: Surat Reba[1] Borong[2] kepada Molas[3] Ruteng[4]

Rasa pertama: ingin tahu.
 Enu?[5] Apa kabar? Sehat? Sudah mandi? Setelah itu pake make up? Make up-nya? Asa[6] pakai bedak Viva No. 5? Bagaimana? Semuanya sudah atau sudah semua? Berarti, enu sudah cantik, kan? Lalu manis, bukan? Ya…“Mantap Jiwa, kasih moke[7] bawa ke dapur, bungkus!”
Enu? Hanya ingin tahu…dan intinya, kamu baik-baik saja! Sehat 4 sehat 5 sempurna, Energen…
            Rasa kedua: mulai rasa.
Semenjak kita berkenalan, bertukar sapa, berbagi rindu, berhujan cinta, berteduh kenyamanan, bernyanyi alunan puisi, menari-nari dalam panggung senang, tertawa berpeluk senyum, diam memeluk malam, riang bersama mentari, gerah dalam matahari, lalu, berjalan menembus tantangan, berteriak dalam gemuruh Guntur, berambisi memeluk mimpi…hingga bertekad mulia: berhasil dalam cita-cita! Lalu berdoa…Ya…sejak saat itu nana[8] mulai aneh-aneh, mirip penyakit “kecanduan batu akik”, dan sangat aneh mirip penyakit “kecanduan HP”, aneh-aneh...lalu mulai rasa, rasa aneh, dan membulat jadi satu rasa, yaitu rasa suka!
            Rasa ketiga: suka!
Enu? Sedikit cerita, biasanya nana Ertus sebelum cebong[9] di Wae Bobo[10], cek status facebook, lelo[11] foto-foto molas Watu Ci’e[12], lalu klik tombol like, bukan subscribe, dan komentar, “Nana sudah like foto enu, foto enung molas t’ung dan imus[13] rebok[14], nana sudah like, 10 juta likers.” Tentu molas Watu Ci’e klepek-klepek mirip ikan Lele; dia senang dapat like dari pujangga hati, sang eros: dewa cinta. Setelah itu, dia ke tokoh Baba Bi’[15] beli bedak viva no. 5, lalu selfie, cekrek..
Enu? Itu hanya cerita saja. Sama seperti nana Ertus, nana suka lihat-lihat fotonya enu, curi-curi save, intip-intip akut. Lalu baper dan suka. Ya…hanya suka! Tanpa comment, apalagi share ke lain hati.
Nana suka enu! Sederhana saja…
            Rasa keempat: suka-suka.
Enu? Nana mulai suka-suka sembarang, tepatnya aneh-aneh. Suka dengar Enu? punya lagu di youtube, iseng-iseng buat status, curi-curi foto, buka-buka IG, telpon-telpon sembarang sampai dapat panggilan rahasia, “Maaf pulsa Anda tidak mencukupi, silahkan mengisinya kembali” ah! Bersyukur hanya pulsa, asalkan jangan panggilan seperti, “Maaf gadis yang Anda suka telah pergi, silahkan meninggalkan pesan suara atau pilih gadis paslon no urut 3”
            Rasa kelima: rasa suka menyatakan “suka”
Enu? Nana sangat menyukai enu dan mulai siap melamar; tapi sebelumnya nana ceritakan perjuangan untuk siap lamar enu. Pertama, nana mulai jual Kopra ke pasar Borong, terus Nanga Lanang[16], lewat pantai Selatan hingga tiba di Iteng[17]; Hari Kamis, nana jualan di Iteng. Setelah itu, jalan ke Utara menuju Ruteng, melewati hujan badai di Golo Lusang[18] hingga tiba di kota Ruteng. Lalu nana singgah di pasar impres untuk beli cermin agar bisa berkaca. Setelah itu, jalan-jalan keliling kota, singgah berdoa di katedral, berdoa lagi di kapel Adoremuste, berdoa lagi di Gua Maria Golo Curu[19], berdoa dan berdoa agar Tuhan menjodohkan kita…
Setelah berdoa nana mulai berkaca, berakting, bergaya, dan siap meluncur ke rumah enu untuk menyatakan sesuatu. Tapi sebelumnya, nana potong rambut di salon Madura dekat Lapangan Motang Rua’[20], beli minyak rambut “Pomade”, dan numpang mandi di kos Kraeng Ertus, lalu berkaca dan siap bertemu enu… “Demi Cinta Aku Rela”
            Rasa keenam: sadar!
Enu? Nana mulai berjalan ke rumah enu, melewati DPRD, terus ke lampu merah, lalu belok kanan menuju Kumba[21], melewati Efata, jalan pelan depan STKIP, perlambat…; dekat Gereja Kumba, nana belok kanan, ke arah bandara, lalu berhenti di depan sebuah rumah mewah berpagar besi 3 meter dan berhias mobil-mobil mewah. Itu artinya, nana sudah sampai di rumah enu.
Nana mulai gugup, takut, dan cemas. Ingin menekan tombol bel…tapi takut, ingin lagi tapi cemas, mau lagi tapi gugup.
Enu? Nana mulai sadar… Nana muka pas-pasan, No cool, orang sederhana, penghasilan tidak tetap hanya bermodal cinta. Sedangkan enu anak orang segalanya, sepenuhnya, dan semaunya, jauh di atas segalanya, jauh melebih dunia…melejit…
Maaf
Nana hanya sampai di depan pagar…tinggalkan sebuah surat…
Dan menghilang…

Nando, s. Jakarta, 9 April 19, pkl. 00.50.



[1] Reba: pujian kepada seorang laik-laki yang beparas ganteng; ganteng
[2] Borong: ibu kota kab.Manggarai Timur-NTT
[3] Molas: pujian kepada seorang perempuan yang beparas cantik; cantik
[4]Ruteng: ibu kota kab. Manggarai-NTT
[5] Enu: sapaan secara halus kepada seorang wanita; saudari
[6] Asa: mungkin; atau; bersifat negasi
[7] Moke: sejenis miras
[8] Nana: sapaan secara halus kepada seorang pria; saudara
[9] Cebong: mandi
[10] Wae Bobo: salah satu sungai di Manggarai Timur-NTT
[11] Lelo: lihat
[13] imusI: senyum
[14] Rebok: makanan khas daerah Manggarai
[15] Baba Bi’: salah satu tokoh di daerah Borong, Manggarai Timur-NTT
[16] Nanga Lanang: salah satu kampung di Manggarai Timur-NTT
[17] Iteng: salah satu kampung di Manggarai-NTT
[18] Golo Lusang: salah satu bukit di Manggarai-NTT
[19] Gua Maria Golo Curu: salah satu tempat ziarah; wisata religius
[20] Lapangan Motang Rua’: nama salah satu lapangan di kota Ruteng yang diambil dari pahlawan daerah Manggarai.
[21] Kumba: nama salah satu kampung di kota Ruteng


Nona? Izinlah…

Nona…
Kata rindu, 
Ko’ seorang gadis
“Ada Yang Menampakan Diri”
Bukan khayalan
Apalagi ilusi
Dan tentu bukan imajinatif

Nona....
Ko’ itu aneh…

Lalu..

Berjinjit,
pelan-pelan
Berjalan,
perlahan..
Berlari,
percepat....
Terbang,
melejit
jauh ke angkasa...

berputar-putar
meliuk-liuk
berkeluk-keluk
menari…

Membiusku

akupun...juga aneh,
aneh-aneh, jadi aneh!

Tiba-tiba berteriak sekencang angin
Melejit seperti Tornado, melesit sapuan roket

“Bolehkah aku singgah di hatimu?”
“Bolehkah mampir sebentar?"
 “bolehkah? Iyalahh”
“Izinlah…”

Berteriak lagi…segemuruh guntur, melenyap halilintar

Dan menghilang.....


Nona?...
Ko' ternyata bukan gadis

kata cinta,

Ko' itu..

TUHAN

"Izinlah...Bolehkah?"

Nando.s, Prapaskah 2019