Showing posts with label suara kaum muda. Show all posts
Showing posts with label suara kaum muda. Show all posts


Manfaat Pendidikan dalam Mitos Alegori Goa Platon:
(Memperingati Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2019)

Oleh
Nando Sengkang
            (Mahasiswa STF Driyarkara-Jakarta)

Tanpa wacana panjang-lebar, kita semua tentu sepakat bahwa pendidikan sangat berguna dalam revitalisasi kehidupan kita, dengan salah satu manfaatnya: mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan, bagi penulis, ibarat obat mustajab yang dapat menyembuhkan penyakit yang sanagat berbahaya bagi masyarakat modern, yakni “penyakit akal sehat”: kekeliruan, kesalahan (tanpa kritis), ketidaktahuan. Argumentasi tersebut berangkat dari kebiasaan meneropong realitas: melihat masalah-masalah sekitar, melihat lebih jauh. Salah satu temuannya ialah, menurut istilah penulis, adanya “penyakit akal sehat” yang menjadi penyakit yang paling berbahaya era modern. Penyakit tersebut merupakan macetnya cara berpikir yang sehat: benar dan sejati. Dengan macetnya cara berpikir yang sehat, hal itu akan menciptakan kekeliruan, kesalahan (tanpa kritis), ketidaktahuan yang menyebabkan kekacauan bangsa ini. Oleh karena itu, peran Pendidikan, seperti obat mustajab, sangat esensial dalam menyembuhkan penyakit tersebut.
Tulisan ini akan memberikan pemahaman bagi kita, yang mungkin masih minim, mengenai manfaat Pendidikan dalam mitos Alegori Goa. Mitos tersebut dipopulerkan oleh Platon, seorang filsuf klasik Yunani, yang tahun 428/427 SM dan meninggal di kota yang sama pada tahu 348/347 (J. H. Rapar, 1991: 41). Dengan demikian, melalui tulisan ini, kiranya pembaca budiman mendapat sedikit pencerahan atau refleksi kembali mengenai manfaat Pendidikan yang membentuk kita menjadi manusia yang manusiawi. Semoga!

Alegori Goa Platon
            Alegori Goa dimulai dengan penggambaran situasi manusia menjadi tahanan di dalam goa. Pengalaman tertawan dan berada dalam goa adalah perumpamaan untuk kondisi manusia yang tidak terdidik. Platon bertutur tentang para tawanan yang tinggal di dalam sebuah goa, mereka terantai sedemikian rupa sehingga pandangan mata para tawanan hanya bisa terarah ke dinding goa. Di dasar goa, di belakang para tawanan yang terantai, ada semacam tembok kecil meninggi yang memisahkan para tawanan dari lalu-lalang budak-budak yang membawa benda-benda di balik tembok tersebut. Dan lebih tinggi lagi ada kobaran api yang menerangi kegelapan goa. Sepanjang hidupnya, para tawanan hanya melihat bayang-bayang yang terpantul di dinding goa.
Oleh karenanya, sangat wajar bahwa mereka menganggap bayang-bayang tersebut sebagai realitas yang sebenarnya. Satu-satunya kenyataan adalah bayang-bayang, dan itulah yang mereka anggap realitas yang sebenarnya. Suara para budak yang lalu lalang dianggap para tawanan sebagai suara dari bayang-bayang yang mereka saksikan (A. Setyo Wibowo, 2017: 113-114).
            Dari deskripsi yang diberikan, kita akan tahu bahwa goa itu memiliki pintu keluar, sehingga ketika seorang tawanan terbebaskan dia akan bisa keluar. Pintu itu cukup besar, namun jalan menuju pintu tersebut menanjak dan curam. Pintu terletak jauh di atas dan terbuka sepenuhnya ke cahaya dari luar. Sebagaimana Platon tidak menerangkan mengapa mereka menjadi tawanan, dia juga tidak menerangkan mengapa ada satu tawanan yang akhirnya terbebakan dari rantainya. Tawanan tersebut dikatakan bahwa ia terbebaskan secara sumbainoi (aksidental, terjadi begitu saja). Bila pembebasa tawanan terjadi begitu saja, maka pada kisah selanjutnya, upaya sang tawanan untuk naik keluar goa bukan kebetulan, juga sengaja (kemauan sendiri), melainkan sebuah “paksaan” (A. Setyo Wibowo, 2017: 113-114).
            Ada dua momen menarik untuk dicermati: pertama, proses paidea (Pendidikan) awalnya adalah sebuah kebetulan belaka, namun kebetulan yang disertai pengorbanan dari si tawanan. Saat seorang tawanan terbebaskan mulai menengok, melihat cahaya api dan benda-benda sumber pantulan, dia merasakan sakit di mata (baca: silau). Kedua, begitu momen awal terlampaui, ketika proses paidea berlanjut, ia akan naik lagi (karena dipaksa) meniti jalan curam menuju pintu keluar. Di sini, dimensi pengorbanan menjadi lebih nyata karena karena Platon mengambarkan sebagai “paksaan”. Sama halnya dengan, orang-orang yang dipaksa untuk bersekolah. Jika mengikuti keinginan sendiri, maka kemungkinan untuk tidak terjun dalam dunia Pendidikan sangat mungkin terjadi. Akhirnya, proses naik sang tawanan keluar goa berakhir pada penglihatan matahari, sebagai sumber segala sesuatu yang ada di luar goa dan simbol kebaikan, pengetahuan benar dan sejati (bdk. A. Setyo Wibowo, 2017: 115-116).
Dari Kegelapan Menuju ke Arah yang Terang
Alegori Goa Platon mengandung banyak tafsiran, tergantung dari sudut mana kita melihatnya. Menurut Platon, para tawanan yang duduk manis dalam kegelapan, sambil menikmati bayang-bayang sebagai wujud realitas, adalah kondisi manusia yang tidak terdidik. Mereka selamanya menganggap bayang-bayang itulah kenyataan sebenar-benarnya. Tanpa mengetahui lebih jauh bahwa realitas yang otentik ada di luar goa. Penulis menafsirkan kondisi ini sangat gamblang menunjukan orang-orang yang tidak mencicipi dunia Pendidikan, sehingga memiliki pengetahuan yang miskin (baca:sedikit), serta terlalu cepat menyimpulkan sesuatu sebagai yang benar, tanpa melihat lebih jauh wujud asli kebenaran itu. Sesuatu yang mereka lihat itulah realitas, tanpa menggali kebenaran yang lebih dalam.
Selanjutnya, ketika seorang tawanan keluar menuju pintu, ia tentu melewati jalan curam dan terjal. Hal ini menunjukan bahwa proses paidea (Pendidikan) tidak seperti jalan tol, tetapi penuh lika -liku atau tantangan yang bercabang. Usaha sang tawanan keluar dari kegelapan patut diacung jempol, penulis menafsirkan bahwa kita semua, khususnya mereka yang belum mencicipi dunia Pendidikan, harus berani keluar menuju arah yang terang: keluar dari zona nyaman, keluar dari pemahaman primitif, keluar dari sikap fanatik, keluar dari daerah kemalasan, keluar dari kebiasaan buruk, dst menuju cahaya terang: benar dan sejati. Jika, usaha menuju ke luar itu tersendat, yang disebabkan oleh ketidakmauan pribadi untuk sekolah dan merubah diri, Platon menganjurkan paksaan sebagai jalan keluar. Dengan paksaan dari orang tua, lingkungan, atau siapa saja terhadap mereka yang tidak ingin mencicipi dunia pendikan, alhasil mereka akan menyadari dan merubah cara pandang primitif itu.
Akhirnya, ketika seorang tawanan tiba di luar goa, dia akan menemukan begitu banyak realitas yang lebih dari pada hanya bayang-bayang di dasar goa. Dia juga akan melihat matahari, simbol kebaikan, pengetahuan benar dan sejati. Semua penglihatan itu merubah pemahaman sang tawanan sebelumnya yang sangat miskin dan menambah wawasannya. Dengan mencicipi Pendidikan, sekurang-kurangnya pernah bersekolah, kita akan seperti sang tawanan, yaitu melihat matahari sebagai gambaran kebaikan dan pengetahuan yang benar dan sejati. Oleh karena itu, pembaca yang budiman silahkan memilih: duduk manis seperti tawanan di dasar goa atau mengikuti sang tawanan yang berani keluar menuju goa? Selamat memilih! Jika bingung, baca kembali Alegori Goa Platon. Baca!







Mengobati Luka-Luka Ibu Pertiwi
(Memperingati Hari Kartini setelah Pesta Demokrasi)

Oleh
Nando Sengkang
(Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara-Jakarta)

Pesta demokrasi, 17 April 2019, sudah usai. Kini, Ibu Pertiwi sepertinya bisa tidur nyenyak setelah sekian lama dipusingkan oleh tingka laku anak-anaknya, yaitu para calon legislatif dan calon capres-cawapres, yang brutal demi merebut harta warisan: kursi kekuasaan. Sebelum tanggal 17 April, kelakuan anak-anaknya sungguh keterlaluan; mereka saling “berperang” demi mendapat harta warisan, ugal-ugalan mandi hujan hoax, main “petak umpet”, mengumpet kebenaran, dan bermain “sepak bola” dengan strategi “Coach Machiaveli”: bermain buruk dan brutal, mencedrai lawan, mencetak gol, dan meraih kemenangan; dengan menghalalkan segala cara, mereka mencapai satu tujuan, yaitu menang! Menang di atas para lawan yang cedra. Seperti itulah kelakuan anak-anak, yaitu para caleg, yang mungkin belum dewasa dan masih nakal. Harap maklumi!
Setelah tanggal 17 April, suasana kembali tenang. Ibu Pertiwi bisa tidur nyenyak. Namun, secara mengejutkan, Ibu Pertiwi terbangun oleh suatu berita yang melukai hatinya. Berita itu bukan ditiup angin hoax, melainkan berita yang faktual. Berita itu ialah kenakalan anak-anaknya kambuh; mereka tidak mau mengakui A, B, atau C sebagai pemenang, mereka tidak mau mengalah, keras kepala, tidak mau berlapang dada, bersikap rendah hati, serta meniru gaya barat: menerima kekalahan dan mengakui kemenangan lawan. Ironisnya, mereka “berperang” lagi, lebih sengit, ugal-ugalan mandi hujan hoax, dan menyangkal dan menyembunyikan kebenaran yang ada. Singkatnya, mereka tidak menerima kekalahan, melainkan menyangkalnya sebagai berita palsu, bahkan mendeklarasikan kemenangannya sendiri dan meneror masyarakat dengan opini palsu. Sikap aneh ini akibatnya sangat luas, masyarakat diterpa bencana alam baru, yakni kebingungan. Saya mengutip pernyataan seseorang di warung kopi, seperti komentator bola, “Apes…apes…tim A mengklaim sebagai pemenang, tim B juga; tim C mengklaim hasilnya seri, tim D mengakui terjadi kecurangan sehingga kalah; para supporter saling serang karena kecewa dengan hasil yang ada, dan wasit sudah duduk minum kopi karena pertandingan sudah usai, lantas mana yang benar? Siapa yang menang? Siapa yang kalah?” itulah suara masyarakat setelah pesta demokrasi!

Luka-Luka Ibu Pertiwi
Ibu Pertiwi dilanda kebingungan, anak-anaknya masih terus merebut harta warisan, melukai saudaranya, dan menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan. Kelakuan aneh ini menambah luka Ibu Pertiwi. Sebelum pesta demokrasi, Ibu Pertiwi mengalami pelbagai bencana: Tsunami yang menelan anak-anaknya, gempa bumi yang memporak-porandakan rumahnya, tanah longsong yang mengubur anaknya hidup-hidup, banjir bandang yang menyeret segala kepunyaannya, dan sebagainya. Selain itu, Ibu Pertiwi jatuh sakit akibat diserang virus KKN: korupsi, kolusi, dan nepotisme, serta virus hoax yang masih menggrogotinya. Setelah pesta demokrasi, kelakuan anak-anaknya yang semakin aneh memperparah luka-luka itu. Mereka berubah menjadi pencuri kebenaran, motivator hoax, dan Serigala yang menerkam dan membunuh yang lain. Dengan demikian, kelakuan yang bobrok itu menjadi pedang yang menghunus secara pelahan ke dalam hati Ibu Pertiwi.
`           Kenyataan lain terjadi. Selain anak-anak yang merebut kursi kekuasaan sebagai harta warisan, terdapat juga anak-anak yang baik, soleh, jujur, rajin berdoa, dan sebagainya. Mereka adalah kaum agamawan. Awalnya, mereka menjadi anak yang amat baik dan menjadi kegembiraan tersendiri bagi Ibu Pertiwi, namun akhir-akhir ini kelakuan mereka tidak jauh, bahkan mereka adalah penyebab kebisingan yang ada. Dalam Kitab Suci Nasrani, mereka disebut orang-orang Farisi atau kaum munafik; kemunafikannya bersembunyi di balik jubah-jubah yang sangat indah. Di balik jubah itu, ternyata mereka memakai jubah berwarna merah, yaitu uang. Uang telah membeli kebaikan, ketulusan, dan kesucian mereka; uang juga telah membeli Tuhan mereka, sehingga dengan uang, mereka mulai menghasut jemaatnya dengan kothbah-kotbah yang menggoda, menyebar hoax, melantunkan ayat-ayat suci, berdoa bersama, dan sebagainya. semua itu adalah demi mweujudkan seseorang yang menyuapi dan memberi jubah merah itu. Munafik!

Mengobati Luka-Luka Ibu Pertiwi
Ibu Pertiwi patut bersyukur karena memiliki anak yang lain, yaitu mereka yang tampilannya biasa-biasa saja, tak banyak bicara, dan sebagai kaum minoritas. Mereka nampaknya seperti “orang-orang biasa”, namun memiliki mimpi yang sungguh mulia, yakni merawat Bineka Tunggal Ika, serta menyembuhkan luka-luka ibunya. Mereka memiliki sikap yang tenang, tidak terseret arus kebingungan yang ada. Mereka juga selalu kritis sebelum menelan suatu informasi, melindungi diri dengan memakai payung persatuan dalam hujan hoax, dan terus menggelorakan “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh!” Seruan itu merupakan alarm bagi saudara-saudara yang lainnya, termasuk para pembaca, untuk bagun dari sikap apatis, egois, dan intoleran yang memecah belah persatuan bangsa. Dengan demikian, kita semua sebagai anak-anak Ibu Pertiwi kiranya mempunyai sikap yang sama, yaitu tenang, kritis, dan terus menggelorakan “Bineka Tunggal Ika” dan merawat ideologi Pancasila. Dengan sikap sederhana itu, tanpa kita sadari, kita sudah mengobati luka-luka ibu pertiwi.

Ibu Pertiwi dan Ibu Kartini
Selain para “Pencinta Persatuan” yang mempunyai satu tujuan: merawat spirit Bineka Tunggal Ika dan ideologi Pancasila, Ibu Pertiwi patut bersyukur karena memiliki seorang putri jelita yang mencintai persatuan, R.A. Kartini. Kartini merupakan putri keturunan bangsawan yang mempunyai kepedulian yang besar pada zamannya. Melalui buah pikirannya yang njlimet, dia menyuarakan persaman gender antara laki-laki dan perempuan; laki-laki dan perempuan adalah sama-sama manusia,  sehingga perempuan tidak hanya berada di ruang sempit, yaitu dapur-sumur-kasur, melainkan bisa berada di ruan publik. Melalui pikiran inovatif tersebut, realitas antara laki-laki dan perempuan berjalan di garis horizontal, walaupun beberapa tempat yang masih berjalan dalam garis vertikal. Dengan demikian, lirik lagu “Wahai ibu kita kartini puteri yang mulia, sungguh besar cita–citanya bagi Indonesia” merupakan penghargaan yang mulia bagi jasanya. Lantas, apakah pembaca bisa menjadi Katini zaman now? Semoga!




Manfaat Pendidikan dalam Mitos Alegori Goa Platon:
dari Kegelapan Menuju ke Arah yang Terang

Oleh
Nando Sengkang
            (Mahasiswa STF Driyarkara-Jakarta)

Tanpa wacana panjang-lebar, kita semua tentu sepakat bahwa pendidikan sangat berguna dalam revitalisasi kehidupan kita, dengan salah satu manfaatnya: mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan, bagi penulis, ibarat obat mustajab yang dapat menyembuhkan, meminjam pengertian KBBI, “penyakit-penyakit” kebodohan: kekeliruan, kesalahan (tanpa kritis), ketidaktahuan. Argumentasi tersebut berangkat dari kebiasaan bereksperimen penulis yaitu meneropong realitas: melihat masalah-masalah sekitar, melihat lebih jauh. Badai masalah yang menerpa kehidupan kita, penyebab utama, menurut penulis, adalah macetnya cara berpikir yang sehat: benar dan sejati. Dengan macetnya cara berpikir yang sehat, hal itu akan menciptakan penyakit-penyakit baru, yaitu “penyakit kebodohan”. Oleh karena itu, peran Pendidikan, seperti obat mustajab, sangat esensial dalam menyembuhkan penyakit tersebut.
Argumentasi penulis di atas, jika dikristisi, bernada kontroversial? Mengapa? Karena dalam kehidupan kita banyak juga orang-orang yang tidak mencicipi dunia Pendidikan, toh, berhasil. Bahkan, lebih berhasil dari mereka yang menikmati indahnya Pendidikan yang pada akhirnya menjadi pengangguran, menambah volume penganggurang bangsa ini. Fakta tersebut tak bisa dihindari, penulis tidak bermaksud untuk merendahkan mereka yang belum mencicipi dunia pendidikan, akan tetapi penulis cemas bahwa dengan tidak adanya suplai Pendidikan di otak kita, maka kita (maaf) akan seperti kerbau dicocok hidung, diperintah kapanpun dan dimanapun, suka-suka! Penulis sangat  prihatin dengan nasib orang-orang yang berada dalam gengaman gembala (si kuat) yang seenaknya dan searogan menarik tali itu, suka-suka! Dengan paket sederhana, yaitu tulisan sederhana ini, penulis menggelorakan manfaat pendidikan, selain ibarat obat mustajab, juga sangat ampuh dalam memotong atau memutuskan tali mentalitas kerbau dicocok hidung.
Agar lebih mencerahkan, selain mengemukakan pendapat penulis untuk memantik kesadaran bersama, penulis menampilkan mitos Alegori Goa Platon sebagai cahaya utama untuk mencerahkan pemahaman kita, yang mungkin masih minim, mengenai manfaat Pendidikan. Mitos tersebut dipopulerkan oleh Platon, seorang filsuf klasik Yunani, yang hidup ribuan tahun silam. Oleh karena itu, sebelum melangkah lebih jauh, penulis mengajak pembaca untuk berkenalan dengan Platon, sehingga dengan mengetahui Platon, alegori yang ditawarkannya dapat mencerhakan kita semua. Naif jika dilewatkan!

Sekilas tentang Platon
Plato atau Platon lahir di Athena tahun 428/427 SM dan meninggal di kota yang sama pada tahu 348/347 SM, pada usia 81 tahun. Menurut kisah mistik yang beredar, Platon lahir tanggal 7 Bulan Thargelion (Oktober), tanggal kelahiran Dewa Apollon. Platon berasal dari keluarga ningrat tinggi di Athena, anak Ariston keturunan Kodros-raja legendaris Athena yang terakhir. Ibunya, Periktione, keturunan dari Solon-legislator pertama polis (negara/kota) Athena (A. Setyo Wibowo, 2010: 15-16). Sebenarnya, nama aslinya Aristokles. Karena dahi dan bahunya amat lebar, ia dijuluki “Plato” dari pelatih senamnya. Plato (Platon) dalam bahasa Yunani berasal dari kata benda “platos” (kelebarannya/lebarnya) yang dibentuk dari kata sifat “platus” (lebar). Dengan demikian, nama Plato (Platon) berarti “Si Lebar” (J. H. Rapar, 1991: 41).
Waktu muda, Platon menerima pendidkan musik (mousike: Pendidikan sastra dan seni secara umum) dan gimnastik. Menurut informasi Diogenes Laretios, setelah itu Platon belajar melukis, berpuisi, dan menulis tragedi. Platon belajar pada Sokrates (469-339 SM)-gurunya yang terkenal sebagai orang bijak (A. Setyo Wibowo, 2010: 16). Setelah kematian gurunya, Platon mengembara ke Mesir, kemudian Sisilia, lalu ke Italia Selatan. Keberadaanya di perantauan menambah pengalaman-pengalaman yang membentuk kepribadiaanya. Setelah kembali ke Athena, pada tahun 367 SM dia membuka sekolah filsafat bernama Academica, di mana Aristoteles menjadi salah seorang murid yang terkenal (Acry Deo Datus, 2013: 129).



Alegori Goa Platon
            Alegori Goa dimulai dengan penggambaran situasi manusia menjadi tahanan di dalam goa. Pengalaman tertawan dan berada dalam goa adalah perumpamaan untuk kondisi manusia yang tidak terdidik. Platon bertutur tentang para tawanan yang tinggal di dalam sebuah goa, mereka terantai sedemikian rupa sehingga pandangan mata para tawanan hanya bisa terarah ke dinding goa. Di dasar goa, di belakang para tawanan yang terantai, ada semacam tembok kecil meninggi yang memisahkan para tawanan dari lalu-lalang budak-budak yang membawa benda-benda di balik tembok tersebut. Dan lebih tinggi lagi ada kobaran api yang menerangi kegelapan goa. Sepanjang hidupnya, para tawanan hanya melihat bayang-bayang yang terpantul di dinding goa.

Oleh karenanya, sangat wajar bahwa mereka menganggap bayang-bayang tersebut sebagai realitas yang sebenarnya. Satu-satunya kenyataan adalah bayang-bayang, dan itulah yang mereka anggap realitas yang sebenarnya. Suara para budak yang lalu lalang dianggap para tawanan sebagai suara dari bayang-bayang yang mereka saksikan (A. Setyo Wibowo, 2017: 113-114).
            Dari deskripsi yang diberikan, kita akan tahu bahwa goa itu memiliki pintu keluar, sehingga ketika seorang tawanan terbebaskan dia akan bisa keluar. Pintu itu cukup besar, namun jalan menuju pintu tersebut menanjak dan curam. Pintu terletak jauh di atas dan terbuka sepenuhnya ke cahaya dari luar. Sebagaimana Platon tidak menerangkan mengapa mereka menjadi tawanan, dia juga tidak menerangkan mengapa ada satu tawanan yang akhirnya terbebakan dari rantainya. Tawanan tersebut dikatakan bahwa ia terbebaskan secara sumbainoi (aksidental, terjadi begitu saja). Bila pembebasa tawanan terjadi begitu saja, maka pada kisah selanjutnya, upaya sang tawanan untuk naik keluar goa bukan kebetulan, juga sengaja (kemauan sendiri), melainkan sebuah “paksaan” (A. Setyo Wibowo, 2017: 113-114).
            Ada dua momen menarik untuk dicermati: pertama, proses paidea (Pendidikan) awalnya adalah sebuah kebetulan belaka, namun kebetulan yang disertai pengorbanan dari si tawanan. Saat seorang tawanan terbebaskan mulai menengok, melihat cahaya api dan benda-benda sumber pantulan, dia merasakan sakit di mata (baca: silau). Kedua, begitu momen awal terlampaui, ketika proses paidea berlanjut, ia akan naik lagi (karena dipaksa) meniti jalan curam menuju pintu keluar. Di sini, dimensi pengorbanan menjadi lebih nyata karena karena Platon mengambarkan sebagai “paksaan”. Sama halnya dengan, orang-orang yang dipaksa untuk bersekolah. Jika mengikuti keinginan sendiri, maka kemungkinan untuk tidak terjun dalam dunia Pendidikan sangat mungkin terjadi. Akhirnya, proses naik sang tawanan keluar goa berakhir pada penglihatan matahari, sebagai sumber segala sesuatu yang ada di luar goa dan simbol kebaikan, pengetahuan benar dan sejati (bdk. A. Setyo Wibowo, 2017: 115-116).
Dari Kegelapan Menuju ke Arah yang Terang
Alegori Goa Platon mengandung banyak tafsiran, tergantung dari sudut mana kita melihatnya. Menurut Platon, para tawanan yang duduk manis dalam kegelapan, sambil menikmati bayang-bayang sebagai wujud realitas, adalah kondisi manusia yang tidak terdidik. Mereka selamanya menganggap bayang-bayang itulah kenyataan sebenar-benarnya. Tanpa mengetahui lebih jauh bahwa realitas yang otentik ada di luar goa. Penulis menafsirkan kondisi ini sangat gamblang menunjukan orang-orang yang tidak mencicipi dunia Pendidikan, sehingga memiliki pengetahuan yang miskin (baca:sedikit), serta terlalu cepat menyimpulkan sesuatu sebagai yang benar, tanpa melihat lebih jauh wujud asli kebenaran itu. Sesuatu yang mereka lihat itulah realitas, tanpa menggali kebenaran yang lebih dalam.
Selanjutnya, ketika seorang tawanan keluar menuju pintu, ia tentu melewati jalan curam dan terjal. Hal ini menunjukan bahwa proses paidea (Pendidikan) tidak seperti jalan tol, tetapi penuh lika -liku atau tantangan yang bercabang. Usaha sang tawanan keluar dari kegelapan patut diacung jempol, penulis menafsirkan bahwa kita semua, khususnya mereka yang belum mencicipi dunia Pendidikan, harus berani keluar menuju arah yang terang: keluar dari zona nyaman, keluar dari pemahaman primitif, keluar dari sikap fanatik, keluar dari daerah kemalasan, keluar dari kebiasaan buruk, dst menuju cahaya terang: benar dan sejati. Jika, usaha menuju ke luar itu tersendat, yang disebabkan oleh ketidakmauan pribadi untuk sekolah dan merubah diri, Platon menganjurkan paksaan sebagai jalan keluar. Dengan paksaan dari orang tua, lingkungan, atau siapa saja terhadap mereka yang tidak ingin mencicipi dunia pendikan, alhasil mereka akan menyadari dan merubah cara pandang primitif itu.
Akhirnya, ketika seorang tawanan tiba di luar goa, dia akan menemukan begitu banyak realitas yang lebih dari pada hanya bayang-bayang di dasar goa. Dia juga akan melihat matahari, simbol kebaikan, pengetahuan benar dan sejati. Semua penglihatan itu merubah pemahaman sang tawanan sebelumnya yang sangat miskin dan menambah wawasannya. Dengan mencicipi Pendidikan, sekurang-kurangnya pernah bersekolah, kita akan seperti sang tawanan, yaitu melihat matahari sebagai gambaran kebaikan dan pengetahuan yang benar dan sejati. Oleh karena itu, pembaca yang budiman silahkan memilih: duduk manis seperti tawanan di dasar goa atau mengikuti sang tawanan yang berani keluar menuju goa? Selamat memilih! Jika bingung, baca kembali Alegori Goa Platon. Baca!





Sampah: Merawat Kepedulian, Memprovokasi Aksi

            Jika kita meneropong realitas tempat kita berpijak, mengais rejeki, dan pancaran kebahagiaan, tentu kita menemukan tempat-tempat yang sedikit ternoda oleh pelbagai sampah yang tersebar dan berserakan di mana-mana. Ambil contoh mengenai realitas di wajah ibu kota, kita akan menemukan sampah-sampah “liar” di segala tempat, bahkan sungai juga menjadi tempat sampah favorit warga ibu kota. Bahkan, sangat aneh jika kita melewati suatu daerah di ibu kota yang bebas sampah, hal itu bukanlah pemandangan positif atau prestasi luar biasa, melainkan seperti suatu mujizat yang terjadi, sangat kontras dengan realitas ibu kota.
            Bukah hanya wajah ibu kota yang sudah ternoda oleh pelbagai sampah, dua bulan yang lalu bangsa Indonesia digegerkan oleh berita kematian paus jenis sperma wales, dengan panjang 9,5 m dan lingkaran badan 437 cm, di perairan Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Kompas.com 20/11/2018). Setelah ditelisik lebih dalam, penyebab kematian paus tersebut yakni paus menelan sampah-sampah plastik yang sulit dicerna. Sampah-sampah plastik tersebut mempunyai bobot 5,9 kg. Berita tersebut, selain menggemparkan, juga sangat menyedihkan karena dapat kita ketahui bahwa segala tempat, baik di darat, juga di laut, sudah menjadi tempat pembuangan sampah sembarangan. Tak heran, bukan hanya di daratan yang sudah ternoda, laut juga sudah tercemar oleh sampah-sampah. Berita kematian paus dan melihat realitas ibu kota melahirkan gejolak, kecemasan, kepedulian dalam diri penulis, sehingga memantik penulis untuk menulis dan berteriak menolak pembuangan sampah secara liar dan mewujudkan cita-cita masyarakat bebas sampah!
Meneropong Akar Masalah
Masalah sampah sudah menjadi hal yang biasa. Pelbagai seminar bebas sampah di segala penjuru tanah air sudah dilakukan, ribuan perbincangan masalah sampah di meja diskusi masih terus dilaksanakan, juga pelbagai aksi nyata memilih sampah, gotong royong membersihkan selokan, dll, sudah diwujudkan. Akan tetapi, pelbagai cita-cita mulia tersebut masih merupakan impian belaka, bahkan belum sepenuhnya terwujud. Penulis juga sudah mengikuti seminar, diskusi dan aksi nyata, namun semua cita-cita masyarakat bebas sampah itu masih belum terwujud, terasa masih sangat jauh. Hal inilah yang memancing penulis untuk mencoba meneropong realitas, sehingga dapat melihat lebih jauh akar masalah yang ada, yang menyebabkan cita-cita di atas belum terwujud.
            Menurut teropong penulis, akar permasalahan sangat sederhana, yang disebabkan oleh setiap individu, yaitu minimnya sikap peduli dalam diri setiap individu. Hal ini membuat sikap peduli semakin merosot, miskin! Kepedulian terhadap masalah sampah, misalnya di ibu kota, menjadi tanggung jawab petugas kebersihan saja, juga pihak-pihak lain yang bertugas. Sedangkan masyarakat lainnya asik bermain dengan keegoisan yang semain tinggi. Dengan demikian, sikap peduli semakin merosot dalam realitas hidup kita, sehingga tak heran masalah di atas masih bergulir dalam hidup kita, tanpa jalan solusi!
Memprovokasi Aksi
Jika kita menarik benang sejarah, pemerintah Indonesia sudah bijak menangani masalah sampah, yaitu mengeluarkan UU No.18 tahun 2008 tentang pengelolaan sampah. Pasal 1 menyuarakan bahwa pengelolaan sampah adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah. Sampah yang dikelola yaitu sampah rumah tangga, sampah sejenis sampah rumah tangga (kawasan industri, kawasan khusus, dan fasilitas umum), dan sampah spesifik (sampah beracun), suara pasal 2.
            Bunyi kedua pasal di atas sangat gamblang menerangkan bagaimana mengelola sampah. Harus sistematis! Mengelola sampah dilakukan secara teratur, juga tersetruktur, serta menyeluruh, baik di dalam rumah, maupun di lingkungan sekitar yang meliputi segala sektor kehidupan kita, dan kontinuitas, dilakukan secara terus menerus atau berkesinambungan terhadap jenis-jenis sampah di atas. Dengan demikian, mengelola sampah secara sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan, cita-cita masyarakat bebas sampah dapat terwujud.
            Ketentuan pidana bagi yang melanggar juga terselip dalam UU tersebut, Pasal 40 (1) berbunyi pengelola sampah yang secara melawan hukum dan dengan sengaja melakukan kegiatan pengelolaan sampah dengan tidak memperhatikan norma, standar, prosedur, atau kriteria yang dapat mengakibatkan gangguan kesehatan masyarakat, gangguan keamanan, pencemaran lingkungan, dan/atau perusakan lingkungan diancam dengan pidana penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 10 tahun dan denda paling sedikit Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).  Tidak hanya peraturan bagi pengelola sampah secara liar, AD (48), warga kota Bandung, Jawa Barat, mengaku kapok dan berjanji tidak membuang sampah sembarangan. AD membayar denda Rp 500.000,00 setelah terbukti melanggar pasal 49 ayat (1) peraturan daerah kota Bandung No.3 tahun 2005 tentang penyelenggaraan ketertiban, kebersihan, dan keindahan, sebagaimana telah diubah ke perda No.11 tahun 2005 (Kompas.com 5/10/2018).
            Contoh AD di atas memberikan warna dari kebijakan pemerintah yang sangat tegas terhadap sikap masyarakat yang membuang sampah sembarangan. Alhasil, melalui peraturan tersebut, AD tobat. Kebijakan perda kota Bandung dapat menjadi cerminan bagi daerah-daerah lainnya, sehingga dapat merangsang masyarakat dan memprovokasi aksi nyata, yaitu tidak membuang sampah sembarangan.
Pintu Solusi

Masalah sampah masih terus terjadi, baik hari ini, maupun hari esok. Bahkan pelbagai diskusi, seminar, aksi-aksi nyata masyarakat bebas sampah masih terus dilakukan. Akan tetapi, pelbagai aksi positif tersebut belum juga mencapai titik solusi akhir. Penulis ikut menyuarakan solusi agar kita semua hidup tanpa bayang-bayang masalah sampah. Menurut hemat penulis, solusi sederhana yang ditawarkan yakni merawat kepedulian bersama. Dengan saling peduli terhadap masalah sampah yang terjadi di tempat kita, merawat kepedulian, setidaknya dapat menghapus bayang-bayang masalah sampah dalam kehidupan sosial. Kedua, pemerintah sebaiknya mematok sanksi yang tegas dan “keras” terhadap tindakan pembuangan sampah sembarangan. Ketiga, penulis mengajak kita semua, khususnya pembaca, untuk menuju pintu solusi agar kita dapat keluar dari ruang masalah yang ada menuju suatu kehidupan bersama yang lebih baik, yaitu mewujudkan aksi nyata atau mempraktekan hidup bebas sampah dalam hidup sehari-hari. Salam!

Quo Vadis Keadilan: Keuntungan Kaum Kuat atau Kaum Lemah?
Oleh
Nando Sengkang
(Mahasiswa STF Driyarkara-Jakarta)

Apa itu keadilan? Pertanyaan ini muncul dalam rasio penulis ketika pertama kali mengajar anak-anak jalanan di daerah Manggarai, Jakarta. Penulis terkejut ketika melihat tempat tinggal para anak jalanan yang (maaf) sudah tidak layak untuk dihuni. Mayoritas pekerjaan orang tua mereka ialah pemulung dan penjual barang rongsokan di sisi trotoar. Suatu ketika, penulis bertanya kepada seorang pemuda, “Mengapa tinggal di tempat seperti ini mas? Kan sudah tidak layak untuk dihuni? Apa nggak ada tempat lain?” pemuda tersebut pun menjawab, “Ya mau gimana lagi bang, kami hanya menerima saja nasib seperti ini, kami merasa sebagai korban ketidakadilan bangsa korup ini”. Jawaban pemuda tersebut terekam dalam ingatan penulis, menjadi bahan refleksi, serta memantik penulis untuk mencoba meneropong masalah bangsa ini, salah satunya ialah ketidakadilan dari kaum lemah atau kaum tersisih. Menurut hemat penulis, kaum tersisih adalah para pengemis keadilan; mereka terus berteriak, protes, dan meminta-minta keadilan kepada si gendut yang hobinya tidur. Ironisnya, usaha ngamen tersebut ibarat teriakan seorang musafir di padang gurun, sunyi dan tanpa jawaban! Lalu lenyap di telan waktu.
Diskursus mengenai keadilan rasanya membosankan! Penulis sudah bayak menonton acara di Televisi yang membahas topik yang sama, juga pelbagai majalah, dan koran-koran lokal, serta media sosial tak ketinggalan meramaikan diskusi tersebut, semuanya bertanya-tanya dan mencari jawaban apa itu keadilan? Dimanakah keadilan itu? Apakah sesuatu yang tersembunyi (lethe)? Dan sebagainya. Rasanya, semua kegiatan tersebut hanya “buang-buang” waktu saja, faktanya, sebelum pertanyaan di atas terjawab, jawaban yang ditemukan berbeda dengan yang ditanyakan dan diharapkan, yakni ketidakadilan semakin membengkak, Aletheia: selalu menampakan diri. melalui paket sederhana, yaitu tulisan ini, penulis mencoba menjawab pertanyaan yang menjadi pencarian kolektif. Selanjutnya, melalui tulisan ini, pertama, penulis menampilkan makna keadilan menurut pemikir Yunani kuno, yang sebenarnya, menurut penulis, bisa menjadi bahan kritik terhadap realitas sosial bangsa Indonesia. Kedua, karena penulis memposisikan sebagai pengamen keadilan (kaum lemah), penulis melihat kaum lemah selalu tunduk pada kaum kuat (penguasa), sehingga tidak berani melawan, hanya menerima saja! Mentalitas seperti ini, menurut penulis, (maaf) adalah mentalitas kerbau dicocok hidung. Oleh karena itu, tulisan ini bisa dijadikan suatu alat potong (gunting, dst) untuk memutuskan tali dari ego si tuan terhadap kerbau. Ketiga, penulis mencoba menawarkan solusi sederhana dalam mengatasi ketidakadilan dengan bercermin pada seruan Bung Karno.  Akhirnya, tulisan ini tidak mempersuasi pembaca untuk mewujudkan keadilan sendiri, melainkan suatu tampilan dari teropong penulis akan realitas sosial bangsa ini, sehingga bisa dijadikan refleksi bersama demi mewujudkan keadilan yang diimpikan. Jika dalam keadaan mendesak, tulisan ini memberi jawaban bagi kaum kecil dalam mencari dan menciptakan keadilan yang dinantikan. Semoga!
 Keadilan: Keuntungan Kaum Kuat
            Penulis meminjam kaca mata Thrasymakhos, seorang pemikir klasik Yunani Kuno, yang memandang jernih akan realitas sosial. Thrasymakhos berpandangan bahwa asal-usul keadilan adalah kekuasaan, apa pun jenisnya. Esensi keadilan adalah apa yang secara positif dinyatakan sebagai hukum. Thrasymakhos menolak bahwa di luar itu ada jenis keadilan lain! Posisinya sangat tajam: adil adalah apa yang diputuskan oleh otoritas kekuasaan, dan tidak ada lainnya lagi. Soal keadilan baginya hanyalah “apa yang dinyatakan secara positif sebagai hukum” dan sejauh dibuat oleh para pemimpin yang adalah orang-orang yang lebih kuat, entah karena harta kekayaan atau posisi sosial, maka dengan sendirinya hukum yang mereka keluarkan adalah yang menguntungkan mereka sendiri. Dengan demikian, jika para pemimpin atau mereka yang lebih kuat mengeluarkan hukum, maka apa yang adil (keadilan) dengan sendirinya apa yang sesuai dengan hukum yang dihayati itu dan dibuat dengan mengakomodasi kepentingan mereka yang membuatnya (A. Setyo Wibowo, 2017)
Kaca mata Thrasymakhos sangat jernih melihat realitas sosial bangsanya. Menurut penulis, pisau analisisnya dapat menjadi acuan untuk mengupas (mengkritisi) esensi keadilan bangsa ini. Sepertinya keadilan bangsa Indonesia berada di tangan mereka yang terkuat, dalam genggaman kaum kuat ini terdapat keadilan, sehingga keadilan dirasakan oleh mereka sendiri. Thrasymakhos telah menampilkan fakta realitas sosial terhadap kebobrokan bangsanya, namun fakta di atas tepat mengenai jantung Ibu Pertiwi. Dengan demikian, menurut penulis, keadilan zaman now senada dengan kaca mata Thrasymakhos, yakni keadilan berada dalam gengaman kaum kuat, salah satunya kaum oligarki.
Keadilan: Keuntungan Kaum Lemah
Apakah keadilan selamanya berada di tangan kaum kuat? Apakah keadilan bisa menjadi keuntungan kaum lemah? Kaum tersisish? Apakah dalam benak Anda masih tersimpan memori Mei 1998? Pertanyaan ini sebenarnya tidak perlu ditampilkan karena kita semua tentu mengetahui peristiwa tersebut (1998). Namun, penulis hanya merefresh memori pembaca untuk melawan lupa. Lantas apa yang menjadi kekhasan peristiwa tersebut? Sesuai dengan topik, menurut hemat penulis, peristiwa runtuhnya Orde Baru (1998), membuktikan orang-orang lemah, orang kecil, orang “tuli-buta-lumpuh”, bersatu melawan kaum yang kuat, yaitu kemahakuasaan Soeharto. Kaum-kaum yang dipandang kecil, lemah, dan berada di bawah bayang-bayang penguasa (pada masa itu), bersatu dan melahirkan cahaya perubahan demi mewujudkan keadilan bersama. Peristiwa tersebut sangat gamblang menunjukan bahwa kaum lemah dapat menciptakan keadilan. Sedikit skeptis, peristiwa Mei 1998 hanya menampilkan kesuksesan kaum lemah pada masa itu, tetapi tidak bertahan sampai saat ini. Lantas seperti apa keadilan kaum lemah itu? Bagaimana kaum lemah dapat menciptakan keadilannya?
Adalah Glaukon, seorang pemikir Yunani kuno, menawarkan premis yang menarik: a) kebanyakan orang berpendapat bahwa “melakukan ketidakadilan adalah sesuatu yang baik, artinya menguntungkan diri kita” sementara “dikenai ketidakadilan adalah sesuatu yang buruk”. Dan orang berepndapat bahwa, b) “dikenai ketidakadilan” rasanya lebih menjengkelkan dibandingkan dengan “kebaikan yang dirasakna dari tindakan tidak adil yang dibuat”. Misalnya, mencuri mangga tanpa ketahuan rasanya nikmat. Namun, saat buah mangga milik kita, yang kita rawat hingga berbuah dicuri orang lain, kita merasa marah, dst . Oleh karena itu, c) ketika banyak orang sudah merasakan derita akibat ketidakadilan, mereka lalu bersepakat satu sama lain untuk melarang tindakan yang tidak adil. Orang-orang ini merasa perlu membuat persepakatan karena mereka sadar bahwa mereka adalah orang-orang yang lemah yang gampang menjadi korban ketidak adilan. Mereka sadar bahwa tidak selamanya dapat mencuri mangga orang lain. Mereka justru ingat bahwa mereka adalah orang-orang yang lemah, yang rentan menjadi korban ketidakadilan, sehingga harus bersatu padu untuk melindungi diri dari tindakan-tindakan tidak mengenakan. Persepakatan semacam itu, d) yang kemudian disebut sebagai hukum, dan apa yang diatur di dalam hukum lantas disebut sebagai “adil”. Dengan demikian, menurut Glaukon, hukum adalah kontrak yang dimunculkan kaum lemah sebagai akal-akalan untuk melindungi diri mereka dari tindakan tidak adil yang dilakukan orang yang lebih kuat (A. Setyo Wibowo, 2017)
Sebuah Tantangan: Mentalitas Tunduk Pada Penguasa
Argumentasi “canggih” Glaukon di atas tentu sangat sulit di terapkan dalam realitas kehidupan sosial. Menurut teropong penulis, realitas sosial menampilkan sifat/mental buruk individu, juga kolektif, yaitu selalu tunduk pada penguasa (kaum kuat). Mengapa hal ini sampai terjadi? Mengapa hidup dalam bayang-banyang penguasa? Jawaban sederhana karena, menurut penulis, mereka (penguasa) adalah orang-orang ‘kuat’ dalam segala hal, mereka bisa melakukan apa saja sesuai nafsu ragawi, mereka bisa menindas kaum lemah kapanpun dan dimanapun, singkatnya, mereka adalah everything. Uang menjadi senjata utama untuk menaklukan kaum lemah. Dengan uang mereka gampang mengunci mulut kaum lemah, mengatur kehidupan kaum lemah, singkatnya uang juga adalah everything. Dengan demikian, kaum lemah selalu tunduk pada penguasa (kaum kuat) dan berada dalam bayang-bayang mereka, senjata super canggih penguasa,yang adalah uang, menjadi singa yang menakut-nakuti si domba yang lemah!
Realitas di atas menjadi tantangan besar untuk mewujudkan keadilan yang sungguh-sungguh adil: tidak memihak siapa pun. Mentalitas ‘buruk’ tersebut sudah terpatri dalam jati diri kaum kecil, sehingga sangat susah untuk merubahnya. Namun, penjelasan berikut mengajak kita untuk bercermin atau belajar dari pendapat kedua tokoh di atas, khusunya Glaukon. Dengan demikian, kiranya interpretasi Glaukon dapat menjadi pembelajaran dan penggerak aksi bagi pembaca budiman.
Belajar dari Glaukon dan Sisipan Solusi
Jika kita masih skeptis: apakah benar kaum lemah dapat menciptakan hukum sebagai perwujudan sesuatu yang adil? Bercermin  pada Glaukon, sangat gamblang menjawab keraguan Anda, juga ditambah dengan memusnahkan mentalitas si kerbau dicocok hidung. Akan tetapi, jika dalam suatu bangsa kaum kuat menciptakan keadilannya sendiri dengan meraup keuntungan bagi kaum-kaumnya sendiri, dan di sisi lain, kaum lemah berusaha sedemikian rupa untuk menciptakan keadilannya sendiri, apakah hal itu tidak terjadi benturan maha dahsyat antara kepentingan kaum lemah dan kaum kuat? Jika kita sedikit memeras rasio kritis, tentu kita sepakat akan terjadi ledakan yang menghebohkan bangsa ini dan peristiwa Mei 1998 adalah cerminannya.
Lantas bagaimana cara agar tidak terjadi ledakan itu? Bagaimana kaum lemah benar-benar mewujudkan keadilannya? Atas dua pertanyaan ini, penulis masih memeras rasio kritis, namun dua pertanyaan ini dapat menjadi pancingan pembaca untuk sama-sama memikirkannya. Penulis hanya menawarkan suatu solusi sederhana bagi kaum lemah dengan meminjam pernyataan Bung Karno: “Kita tidak mempunyai angkatan perang, kita tidak mempunyai bordjuasi nasional, kita harus dan mutlak harus hanja bisa mempergunakan tenaga daripada rakjat djelata sebagai satu verzamelnaam jang saja namakan Marhaen. Dus, sedjak daripada mulanja atau lebih tegas sedjak fase revolusioner dari pada gerakan nasional kita, kita harus bisa memegang pandji persatuan. …Djadi alat kita hanjalah persatuan, dijakalau kita tidak berdiri di atas dasar ini, mungkin gerakan kita akan berhasil (Bung Karno, 26 Mei 1958)”, secara singkat, implementasi dari pernyataan Bung Karno ialah merawat gotong royong.
Senada dengan pernyataan Bung Karno, Glaukon juga menekankan persatuan; kaum lemah harus bersatu agar bisa menciptakan keadilannya sendiri. Namun, persatuan di sini tidak sama dengan persatuan kelas proletarSebagai penutup tulisan ini, penulis meminjam ungkapan Presiden Jokowi sebagai solusi tambahan, “Bila mendapat perlakuan tidak adil dari pihak manapun, segera laporkan”. Dengan demikian, sebuah pencarian akan keadilan sudah ditampilkan dalam tulisan sederhana ini, sekarang Anda silahkan memilih dan mewujudkan keadilan. Pilihan ada di tangan Anda, bukan dalam gengaman siapapun. Pilihan itu akan menjawab pertanyaan inti: quo vadis keadilan? Semoga!